Rabu, November 11

Contoh BAB I Humas (Kualitatif)

BAB I
PENDAHULUAN

Konteks Penelitian
Fenomena Periklanan Sebagai bentuk persaingan dalam komunikasi pemasaran - dalam hal ini khususnya iklan televisi, Tersimpan pesan dalam iklan laten yang dapat Menimbulkan pergeseran-pergeseran Suatu Pemahaman mengenai persolan. Sifat bias pada iklan komersial, yakni dalam Menampilkan atau menonjolkan keuntungan penggunaan produk dan mengkaitkannya dengan Persoalan Tertentu, adalah sangat wajar iklan Mengingat Berorientasi pada Kepentingan pengiklannya. Menjadi permasalahan juga, Ketika khalayak hanya menyerap informasi mengenai produk dari satu sumber, dalam hal ini iklan televisi, kemudian Membentuk Persepsi terhadap informasi atas produk tersebut.
Kekuatan televisi yang berkaitan dengan pemasangan iklan antara lain Efisiensi biaya, Dampak dan Pengaruhnya yang kuat. Hal ini sangat dipercaya oleh produsen, Sehingga mereka tidak ragu untuk memasang iklan di televisi. Lahirnya televisi dan iklan televisi Memberikan dimensi baru terutama bagi Periklanan bisnis di Indonesia. Televisi yang sifatnya audio visual dan atraktif, mampu menyampaikan pesan melalui gambar dan suara secara Bersamaan dan hidup, serta menayangkan ruang yang sangat luas PEMIRSA kepada yang sangat banyak dalam waktu yang Bersamaan (McQuail, 1991; 16). Tentu saja hal ini sangat menguntungkan karena dinilai sangat efisien, apalagi menurut Survei DKI Posting (1 Maret 2000), seperlima (1 / 5) waktu hidup masyarakat lebih Digunakan untuk menonton televisi, sementara lebih dari 30 persen acara televisi adalah berupa iklan (Abadi, 2000). Wajar Jika sejak Membuka mata hingga memejamkan mata, konsumen "dijejali" dengan banyak TAYANGAN iklan.
Iklan yang sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno ini memang terus Berkembang. Kini semua produk seakan tak bisa lepas dari promosi Peran DENGAN MENGGUNAKAN iklan. Oleh karenanya, berbagai Kreatifitas dalam memproduksi iklan PIHAK pun ditempuh oleh pemasar. Dari sekian banyak bentuk yang Digunakan Kreatifitas tak bisa dipungkiri perempuan tak pernah ketinggalan untuk dimanfaatkan menjadi objek sasaran.
Studi tentang iklan televisi sangat menarik perhatian peneliti. Hal mana yang melatarbelakangi ketertarikan itu adalah:
1. makin meningkatnya jumlah stasiun televisi, Sehingga Merangsang perkembangan iklan di televisi yang dari tahun ke tahun terus meningkat jumlahnya, seiring dengan Peningkatan produksi barang di masyarakat,
2. Penyajian iklan televisi Menggunakan media audio-visual Pengaruhnya terasa Sehingga, minimal dirasakan Sebagai hiburan,
3. makin banyaknya penggunaan perempuan dalam iklan membuat iklan televisi dirasakan menarik untuk dikaji. Perempuan - perempuan yang dimanfaatkan untuk mendukung iklan pengiklan ini dipilih yang (memiliki simbol) cantik dan berperan dalam Ruang Lingkup Peran domestik serta diri sebagai pusat perhatian.
Namun demikian ternyata iklan Keberadaan tetap dibutuhkan oleh masyarakat, karena pada jam Tertentu, konsumen dikala membutuhkan informasi tentang produk, iklanlah yang menjadi salah satu pilihannya. Seperti yang diungkap Wrigth (1995) iklan Bahwa ternyata lebih efektif dalam Memberikan informasi dibandingkan langsung mencoba produk tersebut. Melihat kenyataan itu produsen tetap perlu Melakukan aktivitas Merasa Periklanan guna mendukung pemasaran produk mereka, terutama iklan televisi melalui Melihat dengan kelebihan yang dimilikinya.
Sebagai sebuah iklan alat promosi barang dan jasa melalui media massa, sejak awal telah dikenalnya kompleks yang mempunyai keterkaitan dengan berbagai bidang seperti bidang-bidang industri, komunikasi, pemasaran, perdagangan dan teknologi informasi, perkembangan Periklanan karena itu tak bisa lepas dari perkembangan bidang-bidang tersebut. Memberikan Dampak terhadap penjualan menjadi salah satu parameter Keberhasilan proses komunikasi pemasaran. Peningkatan tingkat penjualan yang didorong ekspektasi khalayak akibat dari mis-Persepsi pesan pada iklan kontradiktif justru dapat menjadi citra produk. Ekspektasi yang Muncul dari Persepsi keliru dapat Merusak citra Ketika informasi dalam iklan yang diterjemahkan oleh khalayak tidak sesuai Digunakan produk jam. Hal seperti ini dapat merambat kepada pengiklan citra citra Bahkan sekalipun Sebagai pembuat iklan institusinya, pada akhirnya Ini merupakan bentuk kelalaian Hubungan Masyarakat dalam Menjalankan fungsi dalam organisasi taktis. Karena, Tindakan evaluatif atas iklan pengkomunikasian tidak hanya menjadi tanggungjawab departemen pemasaran dalam organisasional, apabila direntangkan secara makro tugas ini menjadi tanggung jawab Hubungan Masyarakat pada prinsipnya bagian dari Pembentukan Persepsi
Pertanyaan Penelitian
Berdasarkan fokus kajian di atas, maka pertanyaan penelitian ini sebagai berikut:
Bagaimana tampilan perempuan dalam iklan sampo di televisi Bersukacitalah Long?
Simbol apa yang Digunakan Long Bersukacitalah iklan sampo di televisi untuk menggambarkan stereotip terhadap perempuan dalam iklan?

Tujuan Penelitian
1. Untuk Mengetahui tampilan perempuan dalam iklan shampo Bersukacitalah Long di televisi.
2. Mengetahui simbol untuk iklan sampo yang Digunakan untuk menggambarkan Bersukacitalah Long stereotip terhadap perempuan.
Pengertian Istilah
1. Tindakan adalah Menghadirkan representasi atau mempresentasikan sesuatu lewat sesuatu yang lain di luar dirinya, biasanya berupa tanda atau simbol. (Piliang, 2003:19). Penelitian ini akan Melihat representasi perempuan dalam iklan.
2. Perempuan adalah jenis kelamin manusia selain laki-laki. Kata perempuan berasal dari kata empu, yang artinya dihargai.
3. Iklan adalah pesan komunikasi di media yang pemasangannya dilakukan atas pembayaran. (Nuradi, 1996:4).
Menurut Kamus Komunikasi, iklan adalah komunikasi pesan yang menawarkan barang atau jasa dengan jalan Menyewa media massa.
Menurut Frank Jefkins, iklan dapat digolongkan menjadi tujuh kategori pokok, yakni: 1) iklan konsumen, 2) iklan antarbisnis, 3) iklan perdangan, 4) iklan eceran, 5) iklan keuangan, 6) iklan langsung dan 7) iklan lowongan kerja. Untuk iklan sampo iklan termasuk dalam kategori konsumen.
1. Merupakan gambaran citra melalui informasi tentang realitas yang tidak selalu harus sesuai dengan realitas sesungguhnya, Informasi tersebut dapat membangun citra, atau pun meredefenisikan Mempertahankan citra (Rakhmat, 1994:224)
Menurut Jefkins dalam Soemirat dan Ardianto, Citra adalah kesan yang diperoleh seseorang berdasarkan pengetahuan dan pengertiannya tentang fakta-fakta atau kenyataan (Soemirat, 2002:114).
2. Suatu Semiotika adalah ilmu atau metode analisis untuk mengkaji tanda (Sobur, 2004:15). Semiotika menyelidiki semua bentuk komunikasi yang terjadi dengan sarana tanda 'tanda-tanda' dan sistem tanda (kode) 'sistem tanda'.
3. Simbol dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia karangan WJS Poerwadarminta disebutkan Semacam adalah tanda, lukisan, perkataan, Lencana, dan sebagainya, yang Menyatakan sesuatu hal, atau mengandung maksud Tertentu (Sobur, 2004:156).
Simbol atau lambang adalah sesuatu yang Digunakan untuk menunjukkan sesuatu lainnya, berdasarkan Kesepakatan kelompok orang yang meliputi kata-kata (pesan non verbal), perilaku nonverbal, dan objek yang maknanya disepakati bersama.
maaf yah ini cuma potongan dari skripsi humas Sebagian metode kualitatif ...... yg pasti gambaran ini sudah cukup ...

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Recent Posts